Kraton Ngiyom sebagai komunitas telah menyelenggarakan seni kejadian berdampak “Simbah Kodok Rabi Peri Setyowati” dan “Dhanyang Setyowati Sukodok Membangun Rumah” yang melibatkan ribuan orang di Kabupaten Ngawi dan sekitarnya. Untuk melanjutkan rangkaian narasi seni kejadian yang dibangun, dibutuhkan terselenggaranya “Upacara Kebo Ketan” dan “Wuluayu Bengawan Solo” yang berdampak sungai Bengawan Solo kembali bersih dan indah, dijaga manusia berbudaya, beretika dan berestetika, yang kreatif menciptakan perekonomian sendiri.

Membayangkan besarnya soal dan panjangnya sungai Bengawan Solo yang hendak ditelusuri dan ditebarkan benih kreatifitas, kesadaran lingkungan serta penguatan kesenian-kesenian lokal, dibutuhkan tidak hanya suatu kepanitiaan namun juga suatu organisasi yang mampu membangun kerjasama erat dengan pemerintah, di tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kotamadya, sampai ke tingkat desa dan RT. Organisasi yang mampu membangun hubungan kreatif dan produktif dengan masyarakat luas, yang merupakan salah satu pemeran utama suatu kejadian.

Untuk itulah Warga Kraton Ngiyom yang awalnya hanyalah sebuah komunitas merasa perlu dan bersepakat untuk membentuk sebuah wadah organisasi masyarakat yang dinamakan “Kraton Ngiyom” agar memudahkan kerja mewujudkan seni Kejadian “Upacara Kebo Ketan” dan “Wuluayu Bengawan Solo” yang dijangka melibatkan fokus pikiran dan maksud baik, warga Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang berjumlah sekitar 80 juta orang.

Kraton Ngiyom selama dua tahun menuju pelaksanaan Wuluayu Bengawan Solo di musim hujan 2018, akan sekuat tenaga merangkul partisipasi semua pihak untuk diajak mengalami mengubah budaya sekitar sampah, melakukan pengabdian memelihara dan memperbaiki lingkungan, menjaga mata air dan sungai dengan ikhlas.