LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN UPACARA KEBO KETAN 2016

Pelukis Mambang Herras melukis di Sendang Margo saat Wiwitan Upacara Kebo Ketan 2016

Upacara Kebo Ketan 2016 dilaksanakan oleh Kraton Ngiyom bersama banyak seniman, Pemerintah Kabupaten Ngawi, warga desa Sekarputih dan banyak organisasi pendukung, seperti Kelompok Sadar Wisata Ngrayudan, Banser NU, GP Ansor dan RAPI, pada tanggal 17-18 Desember 2016, di tiga lokasi, yakni di Sendang Margo, Alas Begal, dan di Lapangan desa Sekarputih, desa Sekarputih, serta di sepanjang 3 km jalan yang menghubungkan kedua tempat tersebut.

Pembuatan Sang Kebo Ketan oleh Budiyono Kampret dan kawan-kawan

Rangkaian acara pada Upacara Kebo Ketan tersebut, diawali Wiwitan Upacara Kebo Ketan yang dilaksanakan 3 April 2016, diikuti oleh sekitar 700 orang dengan musisi Sawung Jabo, Oppie Andaresta, musisi-musisi dari Yogyakarta, Solo dan pelukis-pelukis Indonesia kelas internasional seperti Nasirun, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Jumadi, Valentinus Rommy Iskandar, Bambang Herras dan Yuswantoro Adi.
Upacara Kebo Ketan Kraton Ngiyom 2016 diawali dengan pembuatan panggung di Lapangan Sekarputih dan “kandang serta kerangka kebo” di Sendang Margo dua minggu sebelum hari H. Selanjutnya rangkaian acara di Sendang Margo adalah pembuatan Sang Kebo Ketan dengan diiringi tari tayub dan music cokekan, disusul dengan khataman Al Qur’an. Di lapangan Sekarputih dilakukan festival music balada dan music dakwah. Selanjutnya pada hari puncak upacara kebo ketan diarak dari Sendang Margo diiringi berbagai macam kesenian arak-arakan dari berbagai daerah, dibawa ke Lapangan Sekarputih dan disembelih di sana, dilanjutkan dengan makan bancakan bersama, musik, dan di malam harinya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Iwan Fals, salah satu bintang tamu di UKK Pertama.

Sebagai suatu “seni kejadian berdampak”, Upacara Kebo Ketan menargetkan beberapa tujuan umum dan khusus.
Kolam Renang Sendang Margo.

TUJUAN UMUM

Tujuan umum Upacara Kebo Ketan adalah melakukan dinamisasi nilai dan struktur.

Dinamisasi nilai yang diupayakan Upacara Kebo Ketan utamanya adalah nilai solidaritas, pelestarian lingkungan hidup, cinta tanah air dan kebudayaan lokal dan pengolahan sampah secara cerdas. Untuk itu, Upacara Kebo Ketan membaurkan tamu pejabat dan masyarakat biasa, duduk lesehan dan makan bancakan bersama. Nilai pengolahan sampah dengan cerdas ditularkan dengan dijadikan pengalaman bersama, lewat adanya relawan anak-anak sekolah dari sekitar lokasi upacara yang menyanyikan lagu Indonesia Raya lengkap 3 stanza dan memastikan bahwa lokasi upacara bebas sampah, sebelum, sesudah, dan pada saat upacara berlangsung.

Empat penari merepresentasikan Mataram Islam setelah Palihan Nagari

Keberhasilan dari penguatan nilai solidaritas dapat dilihat dari senangnya para seniman daerah bertemu dengan seniman nasional dan kebahagiaan warga desa Sekarputih yang kedatangan tamu menginap dalam jumlah besar. Pergaulan yang akrab tercipta secara alami. Beberapa kawan yang membantu secara intens lalu pulang ke tempat masing dan mulai mengupayakan seni kejadian berdampak di wilayah masing-masing, misalnya di Wonogiri dan di Pacitan. Nilai yang dikokohkan oleh hadirnya Pasukan Semut sebagai bagian dari Upacara Kebo Ketan bahkan lebih luas dampaknya. Satu catatan keberhasilan menguatkan nilai soal sampah tersebut dapat dilihat dalam istigosah kubro yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama Jawa Timur di Sidoarjo pada tanggal 9 April 2017, di mana panitia menggalang relawan Pasukan Semut, untuk memastikan tempat kegiatan bersih dari sampah sebelum, sesudah dan pada saat kegiatan berlangsung . Kata-kata tersebut diambil langsung dari Upacara Kebo Ketan dan kegiatan Kraton Ngiyom dan mengindikasikan bahwa nilai yang diperjuangkan Kraton Ngiyom sudah diadopsi oleh organisasi Muslim terbesar di dunia. Semoga lekas meluas lagi. (http://jatim.tribunnews.com/2017/04/09/pasca-istighosah-kubro-begini-kondisi-lapangan-stadion-delta-sidoarjo).

Foto dari kawinan Bagus Kodok Ibnu Sukodok dengan Peri Rara Setyawati di Sekaralas 8 Oktober 2014.

Dinamisasi struktur yang diupayakan adalah melalui kegiatan yang dilakukan, muncul kepemimpinan, organisator-organisator dan relawan di masyarakat khususnya di Sekarputih dan di beberapa komunitas seniman yang membantu terlaksananya upacara.

TUJUAN KHUSUS

Tujuan khusus dari Upacara Kebo Ketan adalah munculnya keekonomian lain yang tidak berbasis lahan sehingga warga yang ‘menjarah lahan Perhutani’ di sekitar mata air, rela meninggalkan lahan untuk ditanami hutan aneka sesuai misi Kraton Ngiyom dan Undang Undang mengenai daerah penyangga mata air. Munculnya keekonomian lain sudah jelas dirasakan warga desa Sekarputih yang menjadi tuan rumah untuk ribuan tamu yang datang menyaksikan Upacara Kebo Ketan, yang dari jumlah itu ada ratusan yang menginap di sekitar 25 rumah penduduk. Tukang ojek pun mendapat panen penghasilan mengantar tamu dari Lapangan Sekarputih ke Sendang Margo pulag pergi yang jaraknya 3 km itu. Warung-warung juga mendapat rezeki nomplok dari banyaknya tamu. Bahwa Upacara Kebo Ketan telah berhasil menghidupkan keekonomian non lahan yang sifatnya sementara, yakni pada hari-hari upacara itu berlangsung, sangat jelas.
Upaya menghidupkan keekonomian non lahan ini juga ditanggapi oleh pemerintah Kabupaten Ngawi yang telah merencanakan untuk memerbaiki kolam renang Sendang Margo dan jalan serta jembatan masuk ke wilayah hutan tersebut. Sementara laporan ini disusun Pemerintah Kabupaten Ngawi juga sedang menyusun rencana pembangunan kawasan Sendang Margo dan Sendang Ngiyom yang apabila telah dilaksanakan nanti akan menghidupkan ekonomi wisata harian dan mingguan di lokasi Sendang Margo dan Sendang Ngiyom. Dengan demikian, keekonomian non lahan yang muncul dari wisata harian dan mingguan di situ, ditambah dengan acara Upacara Kebo Ketan yang dibuat setiap tahun, diprediksi dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat sedemikian rupa sehingga lahan dapat ditanami hutan aneka penyangga mata-air dan kelestariannya dapat terjaga dengan baik.

Bersama Kelompok Sadar Wisata Ngrayudan, Kraton Ngiyom dengan seni upacara mengusahakan peningkatan kesejahteraan dan kwalitas lingkungan hidup di Ngrayudan.

PROSES TERJADINYA UPACARA KEBO KETAN
Giyono, relawan Kraton Ngiyom, memasang WiFi di Sendang Margo.
Adapun selama proses menuju Upacara Kebo Ketan, Kraton Ngiyom bekerja dari hari ke hari memerbaiki lokasi Sendang Margo dan Sendang Ngiyom, ibaratnya satu millimeter setiap harinya. Dari mulai tahun 2012 saat kami mengadakan selamatan pertama di sana bersama rekan-rekan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Ngawi dan mulai membersihkannya, sampai seni kejadian berdampak Mbah Kodok Rabi Peri (2014) di mana kami membangun mitos terkait kedua Sendang di hutan itu, sampai kepada upacara Membangun Kraton Ngiyom (201) di mana kami mendapatkan status areal konservasi dari Perhutani dan dukungan dari Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan bersama semua pihak terkait kami menegaskan batas areal konservasi mataair di sana menurut UU, sampai akhirnya, terlaksana Upacara Kebo Ketan 2016. Jadi Upacara Kebo Ketan bukan suatu “event” yang berdiri sendiri terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan merupakan suatu konsolidasi dan perayaan dari ribuan upaya kecil untuk memerbaiki lingkungan dan memecahkan soal-soal yang ada di masyarakat.

Sang Kebo Ketan diarak 3 km ke Lapangan Sekarputih dengan berbagai seni tradisi mengiring meramaikan.

Di dalam proses kami mengerjakan seni kejadian berdampak “Membangun Kraton Ngiyom” 20155 kami berkenalan dan lalu mendampingi sebagai sahabat, satu kegiatan seni kejadian berdampak di desa Ngrayudan, kecamatan Jogorogo, Ngawi, di mana para pemuda kelompok sadar wisata di sana minta dibantu memajukan pariwisata desanya menggunakan strategi seni upacara. Maka dilakukan Festival Gravitasi Bumi di Selondo, Ngrayudan di bulan Agustus 2016 dan akan dibuat lagi di tahun 2017 ini. Kegiatan di Selondo menghasilkan nilai mengolah sampah dengan cerdas dan kohesi sosial di antara para pedagang di lokasi hutan wisata, serta pamong desa dan warga, yang mana setiap minggu sekali sampah dibersihkan, yang dahulu berserakan begitu saja. Muncul kepemimpinan dan tokoh relawan di antara komunitas di Ngrayudan sebagai bukti terjadi dinamisasi struktur.

Upacara Kebo Ketan merayakan berbagai kesenian arak-arakan.

Kerelawanan dan kepemimpinan di komunitas Sekarputih dan juga di desa Sekaralas juga terbentuk, dengan munculnya beberapa pemuda yang aktif membersihkan kolam setiap minggu. Bersama warga Sekarputih Kraton Ngiyom memerbaiki jembatan kayu yang tidak dapat dilewati sehingga dapat dilewati lagi. Pemuda ahli tehnologi informasi dari Sekarputih, memasang WiFi bertenaga surya dan sebuah kamera IP untuk memantau kegiatan di kolam. Perempuan-perempuan membuat taman bunga bersama anak-anak yang rajin menggunakan WiFi gratis di Sendang Margo. Menjelang hari-hari H muncul relawan-relawan lain di desa yang membantu mengurus sekitar 700 tamu seniman yang datang dan sebagian menginap, saat Upacara Kebo Ketan berlangsung. Tokoh-tokoh masyarakat yang muncul sebagai pemimpin dan relawan kemasyarakatan bukan hanya dari kalangan pemuda melainkan juga dari kaum perempuan dan anak-anak, terutama anak yang terlibat di dalam Pasukan Semut.
Kesenian dari berbagai daerah memeriahkan
Kegiatan-kegiatan Kraton Ngiyom sejak 2014 (Simbah Kodok Ibnu Sukodok Daup Peri Rara Setyowati) sampai saat ini banyak didukung komunitas kesenian dari Padepokan Lemah Putih dan Suprapto Suryodarmo, komunitas Wisma Seni Solo, Gondrong Gunarto dan Misbach Daeng Bilok serta kawan-kawan, penari-penari dari Solo dan juga dari Ndalem Tedjokusuman Yogyakarta, kelompok pelukis Ngawi dan Madiun, kelompok pelukis Yogyakarta termasuk nama besar Budiyono Kampret, Nasirun, Putu Sutawijaya, Samuel Indratma, Yuswantoro Adi, Jumadi, Bambang Herras dan lain-lain, Galih Naga Seno dan Semeleh Solo, Wirastuti Susilaningtyas, Song Meri Pacitan, Sekjen PDIP Bapak Hasto Kristiyanto, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Ibu Siti Nurbaya Bakar, Banser NU dan GP Ansor, Yayasan Suara Bhakti Yogyakarta, alumni SMA Kolese de Britto, PMII, kelompok Sadar Wisata Ngrayudan, kelompok kebatinan Sendika Dhawuh dari Sragen. Karena tidak mungkin menyebut satu persatu, di bawah kami tampilkan daftar lengkap semua seniman dan kelompok seni yang turut memeriahkan Upacara Kebo Ketan 2017. Liong dan Barongsai terbaik se Asia Tenggara, dari Tuban

SENIMAN DAN GRUP KESENIAN YANG BERPERAN DI UPACARA KEBO KETAN 2016:
Arahmaiani (Yogyakarta), Suprapto Suryodarmo (Solo), Budiyono Kampret (Ngawi), Bregada Niti Manggala (Yogyakarta), Barong Abang Tanggulangin (Wonogiri), Barongsai Klenteng (Tuban), Barongan (Blora), Dongkrek (Madiun), Kelompok Kesenian Pemkab Sragen, Reog Sekar Budaya Sekarputih (Ngawi), Tlatah Bocah (Magelang), Padepokan Lemah Putih (Solo), Penari Bedaya (Solo), Wayang kulit (Ngawi), Sekar Pangawikan (Yogyakarta), Dhatnyenk Music (Ngawi) dengan total pengisi acara sebanyak 358 orang.Foto 14

MUSISI PENDUKUNG:

Zastrouw Al Ngatawi & Ki Ageng Ganjur (Jakarta), Kartes Sine (Ngawi), Rindu Dendam (Ngawi), Wicaksono Bagus Pamungkas, Guntur T. Cunong (Solo), Dengung (Solo), Abdul Rani (Singkawang), Slamet Jenggot (Jakarta), Petrus Niko (Magetan) Billa Gita (Solo), Selaras (Ubud), Swa Tantu (Kudus), Jungkat Jungkit (Kudus), Doni Suwung (Yogyakarta), Gaya Gayo (Aceh), Noss (Medan), Jodie Yudono (Jakarta), Sri Krishna (Yogyakarta), Sawung Jabo dan Sirkus Barock (Yogyakarta), Oppie Andaresta (Jakarta), Iwan Fals (Jakarta), Bonita and The hus Band (Jakarta), Endah Laras, Gon Gun and friends, Sono Seni Ensemble (Solo) dengan jumlah keseluruhan 146 orang.
Joel Tampeng dan gaya Gayo jauh-jauh dari Aceh menggabungkan gitar listrik dengan tradisinya
PASUKAN SEMUT:
Pasukan Semut yang terdiri dari anak-anak setingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas sebanyak 300 orang.
KH Dr Zastrouw Al Ngatawi menekankan pentingnya berkepribadian dan berkebudayaan
Total pengisi acara yang terlibat 770 orang. Rumah penduduk dusun Dadapan, dusun Kenanga, Kebonagung, desa Sekarputih yang dipakai sebagai penginapan bagi pengisi acara maupun tamu kurang lebih 25 rumah.

Sumbangan-sumbangan yang diterima Kraton Ngiyom dalam pelaksanan Upacara Kebo Ketan 2016 adalah:
Sumbangan makanan berupa tumpeng sejumlah 100 tumpeng dari 48 desa di tiga kecamatan di Ngawi, kecamatan Jogorogo, Ngrambe dan Widodaren. Pemkab Ngawi membantu ketersediaan beras untuk penyelenggaraan acara, pelebaran jalan, urug, terop, tenda, konsumsi acara, pagelaran wayang kulit, publikasi dalam bentuk spanduk dan baliho serta dana kegiatan.

DONATUR:

Bank Mandiri : Rp 300.000.000
PT Pupuk Indonesia : Rp 50.000.000
Telkomsel : Rp 100.000.000
Pemkab Ngawi : Rp 115.300.000
Bapak Hasto Kristiyanto : Rp 100.000.000
Sumbangan individu, alumni de Britto,
In Tee-Shirt, Yayasan Bhakti Yogyakarta, Bhawata dll : Rp 77.151.818

Total dana terhimpun : Rp 743.451.818
Dana yang dibelanjakan : Rp 573.534.803
Saldo : Rp 169.917.015

Total uang yang dibelanjakan untuk Upacara Kebo Ketan sejak wiwitannya pada tanggal 3 April 2016 sampai terlaksananya adalah sejumlah Rp 573.534.803 (limaratus tujuh puluh tiga juta, lima ratus tiga puluh empat ribu, delapan ratus tiga rupiah) dan dari besaran tersebut, sejumlah Rp 244.179.701 (dua ratus empat puluh empat juta, seratus tujuh puluh Sembilan ribu, tujuh ratus satu rupiah) langsung masuk ke perekonomian desa, khususnya di Sekarputih dan Sekaralas, melalui perbaikan jembatan dan kolam, pembuatan jembatan, pembuatan kamera IP, pembayaran tenaga masak dan tenaga kasar, konsumsi, sewa kendaraan, penginapan sekitar 600 tamu, belanja bahan makanan dan lain-lain.

Upacara Kebo Ketan banyak melibatkan golongan masyarakat marjinal, terutama perempuan dan anak-anak, sebagai juru masak, penyedia akomodasi, penghidang konsumsi. Ratusan penjual makanan, minuman dan mainan anak-anak juga berdagang di sekitar lokasi upacara. Anak-anak yang terlibat Pasukan Semut mencapai 300 anak.

Ucapan Terimakasih.
Foto 17
Dalam penyelenggaraan Upacara Kebo Ketan 2016, Kraton Ngiyom dibantu oleh sedemikian banyak pihak yang tidak dapat disebut satu persatu, namun perlu disebut bantuan luar biasa dari warga dan perangkat Desa Sekarputih dalam penyediaan penginapan bagi para pengisi acara dan tamu, pengelolaan parkir, penghidangan makanan.
Musisi andalan Kraton Ngiyom, Sri Krishna, tampil prima penuh pesona.
Terimakasih kepada seluruh jajaran pemerintahan Kabupaten Ngawi di bawah pimpinan Bapak Bupati Ir. Budi Sulistyo dan Bapak Wakil Bupati Ony Anwar, dalam pendanaan acara, pelebaran jalan dan urug menuju Sendang Marga, bantuan beras bagi konsumsi pengisi acara dan hadirin saat bancakan, publikasi dalam bentuk spanduk dan baliho, kesenian wayang.
selain bancakan, wayang kulit adalah bagian dari prosesi seni upacara tradisional yang masih dapat diikuti semua orang tanpa sekat SARA
Terimakasih kepada Bp Todon Wahyu Anggono dan segenap karyawan In-Teeshirt yang banyak memberi dukungan moril dan nasihat, terimakasih para donator dan sponsor, kawan-kawan seniman, musisi dan kelompok kesenian tradisi dari berbagai kota. Terimakasih kepada Yossi Poediono dan Tangtungan Project. Terimakasih kepada Alexander Surya Agung, Nugroho Setio, Suherman Djohan, Jhonie Kiem, Johanes Koen, Kris Bomboh dan Ratih Janis dari Bhawata Security dan Michael Nugroho dari Yayasan Suara Bhakti Yogyakarta.
Sumbangan dari Klenteng Tuban untuk memeriahkan UKK Pertama 2016.
Terimaksih kepada Banser NU, dan GP Ansor dalam pengamanan acara dan Khattaman Al Qur’an, serta POLRI dan TNI dalam memberikan rasa aman seluruh pengunjung dan peserta.
Sawung Jabo dan Sirkus Barock adalah guru, teladan dan sumber inspirasi bagi Kraton Ngiyom.
Terimakasih kepada RAPI Ngawi yang membantu komunikasi di lapangan.
Seniman Ibukota, Oppie Andaresta, dibayar 2M untuk tampil di UKK Pertama 2016. Makasih Mbak! Lemah Teles Gusti Sing Mbales!
Terimakasih kepada Pasukan Semut yang terdiri dari anak-anak SD di Desa Sekarputih, anak-anak SMP dan SMA dari berbagai sekolah di kecamatan Widodaren.
Foto 23
Terimakasih kepada Kementrian Dalam Negeri yang memberikan Piagam Penghargaan kepada Kraton Ngiyom dan Kementrian Pertahanan yang mengirimkan seorang peninjau mewakili Menteri Pertahanan.
Foto 24
Terimakasih kepada Bapak Jendral TNI Purnawirawan Moeldoko yang menjadi penyelamat keuangan penyelenggaraan Wiwitan Upacara Kebo Ketan 20166.
Foto 25
Terimakasih kepada Bapak Hasto Kristiyanto untuk bantuan moril dan materi yang besar.
Siap menjaga tempat bebas sampah sebelum, sesudah, dan di saat upacara terjadi. Berwenang menegur orang dewasa yang nyampah sembarangan, memberi tahu tempat sampah desain Kraton Ngiyom yang tersedia.
Terimakasih kepada Bapak Onny Hendro Adhiaksono untuk nasihat dan kepercayaannya.
Musisi Nasional tampil memukau
Terimakasih kepada Butet Kartaredjasa yang dengan dermawan, memberikan ilmu mencari dana kesenian, yang memungkinkan Upacara Kebo Ketan tidak tekor.

Suprapto Suryodarmo dan Arahmaiani bersama Sang Kebo Ketan.
Demikian laporan umum secara global, pertanggungjawaban Upacara Kebo Ketan 2016.

Sekaralas, 24 Mei 2017
Bramantyo Prijosusilo
Penanggung Jawab Upacara Kebo Ketan

Leave a Reply