SIARAN PERS II KRATON NGIYOM SOAL UPACARA KEBO KETAN 17-18 DESEMBER 2016

SIARAN PERS II KRATON NGIYOM SOAL UPACARA KEBO KETAN

Dua hari lagi Upacara Kebo Ketan akan dimulai tepat pada pukul 08’00 di dua lokasi di Ngawi: Sendang Marga di Alas Begal, kecamatan Kedungalar, dan di Lapangan desa Sekarputih, kecamatan Widodaren.
Upacara Kebo Ketan adalah sebuah karya “seni kejadian berdampak” yang merupakan satu serial dari serangkaian narasi yang sedang dibangun. Narasi itu diawali dengan perkawinan seniman Kodok Ibnu Sukodok dengan dhanyang Sendang Marga bernama Setyowati, pada 8 Oktober 2014. Di bulan Juni, 2015, narasi berkembang dengan lahirnya Jaga Samudra dan Sri Parwati dari perkawinan Kodok-Setyowati tersebut. Untuk itu Kraton Ngiyom bersama Perhutani dan disaksikan masyarakat luas memastikan batas daerah konservasi Sendang Marga dan Sendang Ngiyom menurut UU, dan mengurus perubahan status wilayah itu dari areal produksi menjadi areal konservasi. Maka di dalam Upacara Kebo Ketan ini Kraton Ngiyom melanjutkan narasi yang dibuat itu sebagai berikut:

Jaga Samudra dan Sri Parwati, sejak kecil dididik agar menjadi mahluk yang memperjuangkan kejayaan Nusantara sebagai bangsa maritim yang tidak lupa daratan. Kita ingin, bukan hanya handal di laut, di perdagangan, di teknologi transportasi dan komunikasi, tetapi juga memiliki dasar pertanian yang kokoh. Bertani diartikan sebagai “mengolah tanah” sehingga tanah makin lama makin subur bukan makin bantat.

Keprihatinan akan kondisi lingkungan alam dan kebudayaan kita ini juga dimiliki para dhanyang Nusantara, termasuk Ratu Kidul dan juga Bagindo Milir, penguasa Bengawan Solo.

Oleh karena itu, Ratu Kidul memerintahkan agar Jaga Samudra dan Sri Parwati, kedua anak Kodok dan Setyowati itu, berguru dengan sistem ngenger kepada Bagindo Milir, dan di situ, mengupayakan cara agar Bengawan Solo kembali menjadi Wuluayu (Sungai Yang Indah — nama kuna Bengawan Solo) sebagai nadi sosial, budaya, dan ekonomi di sepanjang 600 km yang dialirinya. Ngenger adalah metode belajar tradisional, di mana anak didik mengabdi pada kerabat yang diangap memiliki ilmu dan status, untuk belajar segala hal, seperti dikisahkan dalam novel “Para Priyayi” karya Umar Khayam. Menandai ngengernya Pangeran dan Puteri dari Kraton Ngiyom pada Bagindo Milir ini, disyaratkan kami para manusia Kraton Ngiyom, menyelenggarakan “Upacara Kebo Ketan” dengan narasi pengorbanan, untuk menguatkan kohesi sosial, melestarikan mata air dan hutan, mengadakan jalan dan jembatan, menguatkan kesenian dan kreatifitas rakyat dan menciptakan keekonomian yang tidak bergantung pada lahan, bagi masyarakat.

15390659_10153875661576199_402245387361852044_nDi dalam perkembangannya Habib Lutfi Yahya mengarahkan agar Upacara Kebo Ketan ini dapat dilakukan setiap tahun, untuk dikaitkan dengan peringatan Maulud Nabi. Karena itu Kraton Ngiyom mengajak semua pihak dan golngan ikut merayakannya. Dalam kesempatan Upacara Kebo Ketan yang pertama ini, warga Hindu, Buddha, Konfusiusian, dan Kristen dan Abangan, semua turut serta merayakan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW sebagai rahmatan lil alamin. Dengan demikian, Upacara Kebo Ketan adalah suatu tonggak sejarah di dalam kebudayaan di Jawa, di mana sebelumnya perayaan Garebeg Maulud selalu dikerjakan oleh Raja, di sini dikerjakan dan diselenggarakan oleh rakyat jelata.

DUKUNGAN BERBAGAI PIHAK

15571343_1590667420960518_1593425593_nUpacara Kebo Ketan ini selain didukung para tokoh Nahdlatul Ulama seperti Habib Lutfi Yahya, Dr. M.A.S. Hikam, dan Dr. Zastrouw Al Ngatawi, juga didukung penuh oleh Pemkab Ngawi, yang menggelontorkan dana Rp 125 juta dan berbagai bantuan lain dalam bentuk perbaikan saluran pembuangan air dan pengurugan jalan akses ke Sendang Margo dan penggalangan tumpeng-tumpeng dari berbagai kelurahan. Upacara Kebo Ketan akan didukung lebih 600 seniman berbagai jenis seni, dan pada hari Sabtu 17 Desember 2016, di Lapangan Desa Sekarputih akan tampil lebih dari 20 kelompok music, termasuk bintang-bintang seperti Sawung Jabo dan Sirkus Barock, Oppie Andaresta, Doni Suwung, Guntur Cunong, Ucok Hutabarat, Joel Tampeng dan Iwan Fals. Para musisi yang tampil bukan hanya berasal dari pulau Jawa, tapi juga dari Sumatra, Bali, Kalimantan, Polandia, Inggris, dan lain-lain tempat jauh. Total biaya penyelenggaraan Upacara Kebo Ketan yang dipersiapkan lebih dari setahun, melampaui 6 milyard rupiah, yang sebagian besar didapat dari sumbangan keikhlasan dari masyarakat di seluruh dunia. (pandangan langsung lokasi Sendang Marga)

Ketan yang digunakan adalah sejumlah 110 kg ketan hitam kwalitas terbaik dan 110 kg ketan putih kwalitas terbaik. Gambar awal Sang Kebo Ketan dibuat oleh pelukis senior Djoko Pekik, lalu pencetakan kepala Sang Kebo Ketan dikerjakan oleh perupa kondang Heri Dono dan pelaksanaan pembuatan tubuhnya Sang Kebo Ketan, yang lebih dua kali ukuran kerbau hidup, dikomandoi oleh pelukis Muncang bersama Khasan dan Ari, dari Barong Abang, Tanggulangin, Wonogiri. Direktur artistik Upacara Kebo Ketan, dipegang oleh Daeng Misbach, musisi dari pulau Selayar di Sulawesi.

14524575_10153691092161199_1410000253797579110_oAir yang digunakan memasak Sang Kebo Ketan adalah air dari karya Bramantyo Prijosusilo berjudul “Banyu Wayu” berwujud koleksi air dan doa dari ratusan tempat keramat dan orang ikhlas di seluruh dunia. 14918837_10153773633871199_6039579750896473145_oApi yang digunakan memasak adalah api abadi dari Kayangan Api di Bojonegoro.

Ke depan, seni kejadian berdampak yang direncanakan oleh Kraton Ngiyom dan para sekutunya, selain meneruskan Upacara Kebo Ketan di Sendang Marga dan Ngiyom sehingga menjadi acara tahunan, adalah suatu karya berjudul “Upacara Nyanyian Raya Wuluayu Bengawan Solo”, di bulan Maulud tahun 2018, di mana akan diusahakan suatu acara seni kejadian berdampak di sepanjang Bengawan Solo. Untuk itu, Upacara Kebo Ketan kali ini berusaha melibatkan semua kabupaten yang mendampaki dan didampaki Bengawan Solo, dan mendapat dukungan dari Bupati Sragen Ibu Kusdinar Untung Yuni Sukowati, serta juga warga penduduk dari Wonogiri, Sukoharjo, Solo, Tuban, Bojonegoro dan lain-lain. Kegiatan Upacara Kebo Ketan di Sendang Marga, dapat dipantau dari seluruh penjuru dunia secara langsung melalui sambungan internet.

15385359_10153884698086199_9162981746782287909_oPembuatan Sang Kebo Ketan akan disempurnakan di dalam sebuah bangunan khusus yang didirikan di hutan, dari kerangka bambu dan berdinding kain mori dan diberi lampu sehingga di malam hari kelihatan siluet mengingatkan akan bayangan wayang kulit. Leher Sang Kebo Ketan akan diisi gula merah cair sebanyak 30 liter untuk menjadi darah tumpah saat disembelih. Ketan tidak kemudian diperebutkan dalam ritual rayahan yang mengukuhkan struktur feodalisme, melainkan akan dibagikan dengan tertib bagi siapa saja yang menyumbang sejumlah uang yang ringan, di stand khusus Kraton Ngiyom di dekat lokasi upacara.

untitled-116-of-159Sedianya pidato kebudayaan pada tanggal 18 Desember saat penyembelihan Sang Kebo Ketan akan dilaksanakan oleh Habib Lutfi Yahya, dan wayang kulit dengan lakon Kresna Duta di malam harinya, dimainkan oleh maestro dalang Manteb Soedharsono. Namun mendadak kedua tokoh menyampaikan kepada Kraton Ngiyom, tidak bisa hadir karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan. Oleh karena itu Kraton Ngiyom akan menampilkan Dr Zastrouw Al Ngatawi sebagai pemberi pidato kebudayaan, dan wayang kulit akan dimainkan oleh perwakilan PEPADI Ngawi.Seluruh penampil di dalam Upacara Kebo Ketan ini hadir dan tampil dengan sukarela, tanpa ikatan kontrak apapun. Apabila ada yang berhalangan hadir , peserta diharap maklum dan memberi maaf sebesar-besarnya dan tetap menikmati suguhan acara dengan khidmat dan bahagia.

Leave a Reply