SIARAN PERS KRATON NGIYOM SOAL UPACARA KEBO KETAN 17-18 DESEMBER 2016

Habib Lutfi Yahya mengarahkan agar kami mengundang pejabat-pejabat tinggi. Kami upayakan agar dawuhnya kasembadan. Setelah bekerja mempersiapkan selama lebih dari setahun, LSM Kraton Ngiyom kini telah memasuki tahap persiapan akhir penyelenggaraan Upacara Kebo Ketan, 17-18 Desember 2016, di Sendang Marga dan Lapangan Desa Sekarputih, Widodaren, Ngawi, jawa Timur.

Upacara Kebo Ketan adalah sebuah karya “seni kejadian berdampak”. Seni kejadian berdampak bukanlah suatu event belaka melainkan merupakan suatu revitalisasi atas ‘seni upacara’ yang diyakini nenek moyang kita sebagai berdampak positif bagi kehidupan. Upacara Kebo Ketan diciptakan untuk menjawab soal-soal nyata di masyarakat melalui olah seni dan budaya secara luas. Kali ini, soal yang menjadi fokus perhatian LSM Kraton Ngiyom adalah soal mata-air dan hutan, dalam kaitannya dengan soal kohesi sosial dan ekonomi kerakyatan. Kraton Ngiyom adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bekerja di bidang seni kejadian berdampak.

Upacara Kebo Ketan, melanjutkan narasi yang dibangun sejak pelaksanaan seni kejadian berjudul “Mbah Kodok Rabi Peri”, Oktober 2014, dan “Mbangun Kraton Ngiyom”, Juni 2015. Di dalam seni kejadian yang pertama itu, dibangun suatu narasi, bahwa Mbah Kodok Ibnu Sukodok dan Peri Setyowati, seorang dhanyang yang menjaga Sendang Marga dan Sendang Ngiyom di Alas Begal dan Alas Dares, Kedunggalar dan Widodaren, Ngawi. Pada episode “Mbangun Kraton Ngiyom” dikisahkan bahwa Dhanyang Setyowati Sukodok hamil dan melahirkan dan meminta untuk dibuatkan rumah berwujud hutan konservasi pelindung kedua mata-air itu, sesuai dengan UU yang berlaku. Dari itu, pihak Perhutani telah mengubah status hutan di sekitar kedua mata air tersebut , yang semula merupakan hutan produksi menjadi hutan konservasi mata-air.untitled-94-of-159

Upacara Kebo Ketan, mengisahkan kedua anak Mbah Kodok dan Dhanyang Setyowati yang bernama Jaga Samudra dan Sri Parwati, telah remaja). Oleh Ratu Kidul, diberi dawuh agar mereka berdua ngenger (mengabdi untuk belajar) kepada Bagindo Milir, yang merupakan dhanyang Bengawan Solo, dengan tujuan memelajari caranya mengembalikan Bengawan Solo menjadi nadi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat yang mendampaki dan didampaki olehnya. Pada bulan November 2018, Kraton Ngiyom bersama dengan Iwan Fals merencanakan untuk membuat Upacara Nyanyian Raya / Wuluayu Bengawan Solo, dengan fokus dampak seperti tujuan ngengernya Jaga Samudra dan Sri Parwati ke Bagindo Milir.

12278749_10204949793256972_3520081456188207689_n

Adapun untuk mengembalikan Bengawan Solo menjadi nadi sosial, budaya dan ekonomi, LSM Kraton Ngiyom hendak bekerjasama dengan semua pihak yang berkepentingan, untuk menghumuskan kembali lahan-lahan yang mendampaki dan didampaki Bengawan Solo, membudayakan warga pemdampak Bengawan Solo untuk mengolah sampah dengan cerdas, serta menguatkan kesenian rakyat di sepanjang Bengawan Solo, sebagai ragi kreatifitas.

12719424_10208923060023011_8490738705558666419_o

Pada bulan Maret 2016, tim Kraton Ngiyom, menghubungi Habib Lutfi Yahya di Pekalongan untuk memohon keterlibatan beliau di dalam penyusunan dan pelaksanaan Upacara Kebo Ketan ini dan beliau memberi pengarahan beberapa hal. Pertama-tama, beliau mengarahkan agar seluruh jajaran pejabat tinggi diberi undangan. Kedua, beliau menyarankan agar supaya Upacara Kebo Ketan dapat dilaksanakan setiap tahun agar dikaitkan dengan tradisi yang ada, yakni sebagai bagian deri perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW. Itu sebabnya tanggal mengadakan upacara ini dipilih di akhir pekan, setelah Garebeg Maulud di Yogyakarta dan Surakarta. Ketiga, Habib Lutfi Yahya dawuh agar upacara ditutup dengan pagelaran wayang semalam suntuk dengan lakon Kresna Duta dibawakan dalang maestro Ki Manteb Soedharsono.

12801516_801220826656677_56919335170130798_n

RANGKAIAN ACARA
Upacara Kebo Ketan dimulai pada pagi hari pukul 8, tanggal 17 Desember 2016 di dua tempat sekaligus yakni di Lapangan Desa Sekarputih (Festival Balada) dan di Sendang Marga (pembuatan Sang Kebo Ketan). Sang Kebo Ketan dibuat dari desain gambar karya pelukis Djoko Pekik. Perupa asset internasional, Heri Dono, membuat dan mencetak kepala Sang Kebo Ketan dari bahan fiber. Selanjutnya ia diberi kerangka tubuh bambu dan kulit olahan ketan, oleh Daeng Misbach dan kawan-kawan. Pembuatan Sang Kebo Ketan dilaksanakan di Sendang Marga di dalam suatu dapur darurat yang didindingi kain mori putih. Di malam harinya para pekerja dan hasil pekerjaan mereka tampak sebagai bayangan di didinding dapur.

15253513_1568546199839307_8339011121947266057_n
Sementara itu di sejak pukul 8 pagi di Lapangan Desa Sekarputih diselenggarakan pagelaran musik kinetik Slamet Jenggot, yang membuat alat musik sendiri yang sekaligus juga merupakan karya seni sculpture, dan juga “Festival Balada”, menampilkan berbagai musisi dari dalam dan luar negeri, termasuk Sawung Jabo & Sirkus Barock, Totok Tewel, Joel Tampeng, Ucok Hutabarat & NOS, Guntur T Cunong, Sri Krishna, Swa Tantu (Kudus), Abdul Rani (Singkawang), Kodok Ibnu Sukodok, dan tamu khusus berinisial IF sebagai surprise. Malam harinya, ada istigosah, tarian sufi serta musik dakwah, Ki Ageng Ganjur dan Dr Zastrouw Al Ngatawi.

14721652_1529862803707647_1437119285768592843_n

Pagi harinya di dalam tandu tertutup yang berhias Sang Kebo Ketan diarak ke luar dengan sakralisasi oleh Paguyuban Sekar Pangawikan (Yogyakarta) dari dapur pembuatannya disambut reog Kebon Agung, Barongsai Kwan Sing Bio (Tuban), Barongan (Blora), Barong Abang Tanggulangin (Wonogiri), Bregada Niti Manggala (Yogyakarta) dan para seniman gerak asset internasional seperti Suprapto Suryodarmo, Arahmaiani, Dwi Surni, Imin Bagus Pranowo, dan musisi-musisi seni sakral Gondrong Gunarto, Misbach, Yenny Arama, Jade Flahive-Gilbert (Inggris) Aga Ujma (Polandia). Selanjutnya ada pidato sambutan dan Pidato Kebudayaan oleh Habib Lutfi Yahya, yang dilanjutkan dengan penyembelihan Sang Kebo Ketan diiringi solo Sakuhachi oleh Misbach.

Masih ada penampilan Tlatah Bocah (Merapi) Rindu Dendam (Ngawi), Arif Hendrasto (Ubud) spontanitas pengunjung dan Dhatnyenk Music (Ngawi) sebelum di malam harinya dilanjutkan dengan pentas wayang semalam suntuk. Upacara Kebo Ketan didukung oleh warga masyarakat desa Sekarputih, Pemerintah Kabupaten Ngawi, dan juga warga internasional.

#UpacaraKeboKetan #KratonNgiyom #SeniKejadianBerdampak

Leave a Reply