Persiapan UPACARA KEBO KETAN SEPTEMBER 2016

Persiapan untuk Upacara Kebo Ketan, 17-18 Desember 2016 makin mengental. Tadi siang Kraton Ngiyom dan perangkat desa Sekarputih mengadakan silaturahmi dan makan siang bersama untuk membahas kegiatan Desember nanti. Kami sepakat untuk membuat peta desa Sekarputih beserta potensinya. Misalnya, rumah siapa yang bisa menginapkan tamu, fasilitasnya apa, biayanya berapa. Sepeda motor siapa yang nanti dapat dijadikan ojek, mengingat kejadian ada di 2 lokasi yang berjarak sekitar 3 km akan banyak yang butuh ojek. Bambu yang dibutuhkan berapa dan diambil dari mana, dan hal-hal teknis lainnya seperti itu. Nanti rumah-rumah homestay, akan difoto dan diaplod lengkap dengan kontak-personnya.

Selain itu kami juga mendapatkan solusi sementara untuk jembatan Kali Kunci di sendang Ngiyom yang tahun lalu diperbaiki Perhutani, tapi menggunakan kayu trembesi yang rapuh. Dalam setahun beberapa bagian jembatan yang digunakan masyarakat mengakses sendang Marga dan wilayah sekitarnya yang banyak ditanami kacan, jagung dan singkong sehingga kadang digunakan truk bermuatan s/d 7 ton, jebol di sana sini. Kraton Ngiyom menyumbang beberapa kayu untuk menambal jembatan jebol dan ke depan desa sudah mengajukan anggaran untuk membuat jembatan lebih baik lagi. Sebetulnya jalan menuju sendang Marga sangat vital bila diharapkan muncul keekonomian lain non lahan di sana. Adanya keekonomian lain ini sangat penting mengingat masyarakat yang menggarap lahan sampai ke tepi sendang, membutuhkan nafkah bila sudah tidak lagi berladang atau bersawah di situ karena tempatnya menjadi areal konservasi.

Tahun lalu Perhutan mengatakan bahwa sebaiknya hutan aneka yang ditanam memiliki suatu pohon khas, semacam maskot, dan disepakati bahwa yang tepat ditanam adalah walikukun. Bukan hanya karena wilayah ini kadang disebut wilayah Walikukun tetapi kayu walikukun juga memiliki posisi khas di dalam budaya Jawa. Selain dianggap sebagai kayu bertuah, ia juga pilihan petani sebagai tangkai cangkul karena kayunya berat dan halus lagi keras dan ulet. Di masa lalu, digunakan untuk gagang tombak, penggada dan busur panah tradisional.

14302706_120300000235706659_753168383_n
14383539_120300000236685315_220689240_n
14407532_120300000237056548_987887679_n
14193740_120300000082265067_1387632241_n-1

Sebelum pertemuan siang tadi dengan perangkat desa Sekarputih dan para relawan Kraton Ngiyom, paginya saya ke kantor pos mengirimkan 9 buah proposal dan undangan kepada para pejabat, antara lain kami mengirim ke Menteri Sekretaris Negara, meminta perkenan Presiden Joko Widodo memberi pidato utama pada puncak Upacara Kebo Ketan. Karena Upacara Kebo Ketan adalah suatu Garebeg Maulud dari rakyat dan bukan dari kerajaan maka ini adalah suatu tonggak sejarah kebudayaan Jawa yang pantas dibuka oleh Kepala Negara. Selain itu sebagai upaya membangun dari desa, dari pinggiran, dan sebagai upaya mendorong berkembangnya budaya maritim TANPA LUPA DARATAN, yang menjadi bagian dari misi Kraton Ngiyom, adalah juga suatu program yang sejalan dengan perkataan Presiden.

Menuju ke Upacara Kebo Ketan pada hari Minggu tanggal 25 September ini Kraton Ngiyom akan mengadakan acara silaturahmi relawan dan sanak saudara dan handai taulan dengan mengadakan pentas latihan reog Kebon Agung di lapangan Sendang Marga.

Demikian laporan kegiatan persiapan Upacara Kebo Ketan sejauh ini.

Salam Kraton Ngiyom!

Leave a Reply