Simbah Kodok Rabi Peri Setyowati

kodok

Gagasan untuk merawat Sendhang Margo dan Sendhang Ngiyom merupakan latar belakang yang akhirnya menggumpal dalam sebuah gagasan Seni Kejadian Partisipatif Berdampak yang pertama, yang berjudul Simbah Kodok Rabi Peri Setyowati, karya Seniman Bramantyo Prijosusilo. Perkawinan antara Kodok Ibnu Sukodok seorang seniman dan aktor kawan lama Bram di Bengkel Teater Rendra dengan mahkluk halus Rara Peri Setyowati yang merupakan Dhanyang mata air dan hutan di Alas Begal inilah pintu masuk bagi lahirnya narasi Dhanyang Setyowati.

Dikisahkan Dhanyang Setyowati mau kawin dan menjadi istri Kodok Ibnu Sukodok, bujangan yang berusia 63 tahun karena rasa cinta yang diikat oleh kecintaan dan kepedulian yang sama kepada alam, lingkungan dan budaya. Disamping itu Setyowati meminta Kodok Ibnu Sukodok sebagai manusia berakal, budi dan raga untuk berusaha sekuat tenaga membangun kembali rumah Setyowati yang hancur dan rusak. Rumah itu di alam ghaib berwujud sebuah kraton, di alam nyatanya yang kasat mata berupa konservasi mata air dengan penanaman kebun hutan rimba aneka (agroforest) yang kokoh secara ekologi, kultural,dan secara estetika.

Pada 8 Oktober 2014 dilangsungkanlah perkawinan antara dua mahkluk beda alam ini di rumah tua, milik keluarga Bram di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur, dengan tata cara adat Jawa lengkap. Ribuan orang dari berbagai daerah memenuhi arena acara. Polisi, TNI dan Banser Ansor sibuk dan dengan ikhlas membantu keamanan acara perkawinan itu.

Acara dimulai dengan siraman pada sore hari yang dilakukan oleh seniman gerak senior Suprapto Suryodarmo, K.R.T.H Ach. Kailani Djailani Hadinagoro, Mugiyono Kasido dan Arahmaiani. Pada acara ini turut diundang pula Ratu Kidul dan tokoh-tokoh mitos ternama seperti Sabdo Palon Naya Genggong, Brawijaya Pamungkas, Pangeran Suryakencana.

Selanjutnya narasi Dhanyang Setyowati ini hidup mengalir dan semakin kaya cerita hasil partisipasi banyak pihak. Sejak awal kami berusaha mendekonstruksi relasi manusia dan mahkluk halus yang biasanya hanya ajang eksploitasi manusia untuk mendapatkan kekayaan, jabatan maupun wibawa. Kyai Zastrouw Al-Ngatawi (mantan asisten pribadi Gus Dur), yang memberikan pidato perkawinan menegaskan, bahwa ini adalah acara seni budaya dan yang tidak ada urusannya dengan syirik ataupun musyrik.

Malam itu desa Sekaralas yang menjadi lokasi kejadian penuh sesak dengan manusia. Setiap halaman menjadi lahan parkir, warung-warung dadakan muncul di mana-mana, orang bergembira dan enggan meninggalkan tempat acara sehingga perlu dipaksa dengan halus.

Leave a Reply